November 2016 adalah bulan paling melelahkan.
Memasuki semester 5 kuliahku, aku mulai sibuk mengikuti kepanitiaan acara tahunan yang diadakan oleh jurusanku. Acara itu namanya IMSI's Anniversary yang maksudnya adalah ulang tahunnya Ikatan Mahasiswa Sastra Inggris pada saat itu yang ke-35.
Aku memilih menjadi panitia bagian acara, sedangkan teman teman satu gengku menjadi panitia di bagian publikasi. Karena kerjaan ku di bagian acara belum terlalu sibuk maka aku membantu teman temanku untuk ikut mempublikasikan acara kami ke sekolah sekolah.
Kegiatan publikasi ini dimulai kalau tidak salah bulan Oktober. Dan saat itu aku masih menyandang status sebagai pacarnya didi. Waktu itu kami sama sama sibuk, sehingga terjadi permasalahan diantara kami yang menyebabkan kami berpisah.
Singkatnya aku putus dengan didi. Benar benar putus. Didi tidak pernah menghubungiku lagi. Kami berdua sudah ngga intens lagi berkomunikasi waktu itu, meskipun kadang kadang aku ingat sekali, aku memberanikan diri untuk memulai duluan menanyakan kabarnya. Karna sejujurnya terkadang aku merindukannya.
Memasuki bulan November kegiatan publikasi masih aku ikuti. Meskipun tanggung jawabku sebagai panitia acara juga harus aku kerjakan dan kewajibanku untuk kuliah juga harus dilaksanakan. Sejujurnya aku lelah, tapi aku menikmati kesibukan ku. Ini dikarenakan kekosongan akibat putus dengan didi bisa sedikit tertutupi dengan menyibukkan diriku.
Disuatu sabtu pagi yang ngga terlalu pagi di bulan November, aku bangun dengan malas malasan. Menggeliat di kasur dan menguap nguap. Hari itu weekend. Ngga ada kuliah. Dan aku berniat melanjutkan tidurku.
Tetapi niat suci ku itu ternodai ketika dering ponselku berbunyi.
Seorang teman dari panitia publikasi menelponku. Dia meminta ku membantunya untuk publikasi hari itu. Dan aku sangat sangat sangat sangat malas untuk ikut. Aku sempat menolak permintaannya dengan berbagai macam alasan. Tapi tetap saja, aku ngga tega karna dia ngga ada yang bantuin dan akhirnya akupun luluh. Dia berkata akan menjemputku setelah mematikan telpon.
Aku pun kemudian bersiap siap. Karena mendadak dan hanya publikasi disekitaran kampus aku memilih untuk ngga mandi.
Baru saja aku selesai sikat gigi dan mencuci wajahku terdengar seseorang memanggil namaku dari luar. Suaranya sangat keras dan nyaring sehingga aku sangat yakin bahwa seluruh isi rumah bisa mendengarnya saat itu.
"Ah, pasti itu dia udah dateng." Ujarku dalam hati.
"Tungguuuuu bentaaarr!". Aku setengah berteriak memintanya untuk bersabar sebentar karna aku belum selesai.
Buru buru aku menggganti celana pendek ku, memakai jilbab, mengambil ponsel yang sudah dipenuhi dengan notif pesan serta 8 kali panggilan tidak terjawab dari temanku itu. Aku meraih kunci rumah lalu membuka pintu. Dia sudah menungguku duduk diatas motornya sambil tersenyum manis. Tapi berubah jadi tidak manis karna dia mulai memarahiku.
"Lama kali kau bodat!"
"Aku baru bangun pas kau telpon."
"Yauda ayok, kita cuma bagiin flyer di audit aja kok."
"Hmmm..."
"Ikhlas ngga bantuinnya?"
"Iya. Nyet."
Kalau saja dia bukan teman dekatku, aku sudah melanjutkan mimpi indahku. Atau sekedar tiduran dikamar sambil membaca novel kesukaanku. Menikmati akhir pekan dengan caraku sendiri. Biarlah, pikirku. Setidaknya membantu orang yang kesusahan akan mendapatkan pahala. Insya Allah, aku ikhlas. Jika tidak, ngga jadi dapat pahala.
********
Sebelum ke auditorium untuk publikasi aku dan temanku ke kampus dulu. Oiya kampus ku di fakultas ilmu budaya karna aku anak sastra. Sudah ku kasih tau kan ya? Kami berdua langsung ke stand annive. Disana sudah berkumpul beberapa teman teman panitia yang lain.
"Kalian publikasi di audit, disana rame anak sekolah. Lagi ada olimpiade. Bagi bagi flyer aja." Kata seseorang dari mereka.
Ya Tuhan baiklah. Begini pada akhirnya weekendku. Setidaknya sampai tanggal 26 November saja. Hanya sampai acara annive ini selesai.
Aku dan temanku lalu naik motor menuju audit. Dan, ternyata audit sangat ramai. Benar benar sangat ramai. Seperti pasar. Banyak pedagang makanan dan banyak anak anak sekolah dengan seragam mereka masing masing.
Ada yang cuma duduk duduk. Ada yang sedang makan. Dan ada juga ternyata yang ganteng he he hee.
Aku melihat layar ponselku. Tidak ada notif apapun yang masuk. Kulihat jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Pantas rame, pikirku.
Temanku memarkirkan motornya. Kami berjalan memasuki halaman auditorium. Beruntunglah kali ini kami tidak publikasi berdua saja. Ada beberapa teman teman panitia lain yang ikut membantu. Tapi hanya aku dan temanku yang berjenis kelamin perempuan dan sisanya bukanlah perempuan.
"Untung kau ikut." Kata temanku padaku
Dia menyerahkan ku beberapa flyer yang baru saja di fotocopy dan masih hangat hangatnya.
Kami berdua dan teman teman panitia yang lain mulai menjalankan tugas publikasi ini. Membagikan setiap lembaran flyer ke anak anak sekolah yang kami temui disana. Benar benar seperti sales obat pikirku.
Tapi, taukah kamu?
Aku memang tidak terlalu akrab dengan teman teman panitia yang lain, tetapi aku mengenali mereka. Hanya saja ada satu yang tidak. Karena aku tidak mengenalinya. Sama sekali ngga.
Sempat kupikir orang itu teman seangkatanku sama seperti aku dan teman teman panitia yang lain. Tapi aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Sempat kupikir pula orang itu seniorku. Karena rambut gondrong nya dan wajah yang dipenuhi kumis dan jenggot.
Lalu siapa dia sebenarnya?
Kutanyakan hal ini kepada temanku, karena rasa ingin tauku yang sangat besar.
"Itu anak, siapa ya. Kok baru liat?"
"Anak 2015."
"Kok tua ya?"
"Aku pikirpun senior."
"Hahaha sama. Namanya tau?"
"Kalo ga salah anwar."
Begitulah pertama kali aku bertemu orang itu. Orang yang bernama anwar. Orang lain yang kini menjadi pacarku. Anwarku.
Ku kira sampai disini dulu saja. Nanti akan aku ceritakan lagi bagaimana aku bisa berpacaran dengannya dijudul yang berbeda lain waktu. Sekarang sudah pukul 08.38 Waktu Indonesia bagian Barat. Dan aku ada kuliah pukul 09.40. Dan aku malas.
********