Waktu itu hari kamis, kamis yang manis bagiku. Aku dan anwar sedang video call. Aku melihat wajahnya dari layar ponselku, yang koneksinya kadang ngga stabil dikarenakan paket data ku yang sudah tidak bersahabat.
"Aku buat puisi," katanya.
"Puisi apa? Aku mau denger," kataku.
"Tapi aku ngga tau judulnya apa," katanya.
"Gapapa," kataku.
"Tapi aku lupa," katanya.
"Tapi puisinya bohongan?" kataku.
"Ngga! Aku serius," katanya.
"Terus yang buat kan kau, masa lupa", kataku.
"Sebentar ya", katanya.
Anwar kemudian, seperti mencari sesuatu. Aku memperhatikannya dari layar ponselku. Setelah ku rasa dia menemukan sesuatu itu dia melihatku sambil senyum.
"Oke, dengerin ya..." katanya kepadaku sambil berdehem seperti orang batuk padahal ngga lagi batuk dianya.
"Iya," kataku.
Anwar lalu membacakan puisinya. Aku mendengarkan dengan seksama. Alhamdulillah saat dia membacakan puisi koneksi di ponselku stabil jadi aku bisa mendengar puisi itu jelas. Tapi aku berpura pura tidak mendengar dengan jelas sehingga anwar pun mengulangi membacakannya untuk yang kedua kali hehehe.
"Ini pertama kali aku buat puisi cinta," katanya.
"Gapapa. Bagus kok," kataku.
"Iya. Aku tau kenapa kau bilang bagus," katanya.
"Kenapa?" kataku.
"Karena disitu ada namamu," katanya.
"Iya hahaha," kataku
"Setiap puisi yang ada namaku itu bagus. Hahaha," kataku lagi.
Dia tertawa.
Lalu aku ikut tertawa dan tidak berhenti, karena apa?? Karena itu adalah pertama kali seseorang membuatkan aku puisi. Aku senang.
Terimakasih pembela kebenaran di negeri antah berantah.
0 comments:
Post a Comment