Sunday, 6 August 2017

PART I : HANDSHAKE

Posted by Your Cotton Candy at 09:11

Satu

Aku menyayanginya, aku sangat beruntung memilikinya.

Bagiku engga mudah untuk mengumpulkan keberanian mendekati dia. Bahkan aku harus konsultasi dulu ke beberapa teman yang aku percaya tidak akan menertawakanku karna tau aku akan mendekati seorang laki-laki. Dan pada akhirnya aku berhasil menguatkan keyakinanku untuk menghubunginya duluan, lewat direct message instagram (Birain wlee, sudah emansipasi kok!)

Akhir desember menuju awal tahun, chat demi chat membuat kami semakin dekat. Awalnya, aku kira ini akan jadi hal yang sulit untuk mencari topik pembicaraan aku dengannya (berhubung aku yang mulai duluan hehe). Tapi ternyata engga sama sekali. Percakapan-percakapan itu mengalir begitu saja, membuatku seperti orang gila, yang harus aku akui dengan hanya membaca chatnya membuat aku tersipu, tersenyum, bahkan teriak histeris. Aku engga yakin apakah dia tau hal bodoh ini, tapi aku berharap dia engga tau (hei kamu, kalau sudah tau berpura-puralah tidak tau. Ini memalukan, oke!).

Sepertinya aku menyukaimu. Apakah kamu juga menyukaiku?

Di setiap sesi chit chat kami, aku selalu menggodanya. Bukan menggoda seperti wanita penggoda ya! Tapi menggoda dengan candaan, mengganggu lebih tepatnya. Aku mengatakan, "Aku ingin mengganggumu terus", dan dia dengan senang hati membiarkanku mengganggunya.

Semakin sering chat dengannya semakin menyenangkan dan semakin membuat aku gila. Tergila-gila padanya kah?

Menggilaimu, mewaraskanku.

Hari dimana aku bertemu dengannya setelah libur natal dan tahun baru itupun tiba. Hari itu pula yang menjadikan dirinya sebagai bagian besar dari hidupku. Hidup seorang rima, perempuan keturunan Batak yang gabisa bahasa Batak.

Hari itu, Aku kuliah pagi, dengan semangat aku berjalan ke kampus, perasaan tidak sabar ingin bertemu menggebu-gebu di diriku. Aku sangat senang. Bukan. Bukan karena akan bertemu dengannya. Tiba dikampus aku tidak melihat keberadaannya, tapi kabar baiknya dosen yang mengajar mata kuliah pagi ini dinyatakan tidak masuk.

Aku senang sekali, begitu juga teman teman sekelas yang lain. Hal itu membuat aku dan teman temanku, noni and the geng namanya, memutuskan untuk menghabiskan waktu bergosip ria bersama sama.

Ketika kegiatan gosip berlangsung, masing masing dari kami bergantian bercerita. Rutinitas yang Noni and the geng lakukan disetiap kesempatan. Nyeritain orang lah intinya. Sambil mendengar gosip dari temanku, aku membuka ponsel. Mengirim chat bertanya dimana posisinya. Agak lama aku menunggu balasannya, lalu dia menjawab bahwa dia sedang sarapan dikantin dan akan kesana setelah sarapan. Oh iya dia juga menyampaikan kalau dia sangat lapar karna belum ada makan (padahal aku juga)

Aku terbawa suasana dengan gosip yang diceritakan temanku, kami tertawa bersama-sama. Saling melepas kata-kata kotor kepada satu sama lain. Tiba-tiba saja salah satu temanku menyebut sebuah nama.

Anwar.

Tidak. Temanku tidak seperti hanya sedang menyebut, tapi dia menegur orang yang disebutkan namanya itu. Lantas aku menoleh kepada orang itu. Orang yang aku sangat ingin temui. Dia disini.

Dia berjalan ke arah kami, sambil tersenyum kepadaku. Aku pun tersenyum kepadanya, tapi taukah kalian bahwa dibalik senyum dan tawa yang muncul dari bibirku ada rasa gugup yang mengusik diriku.

Dikepalaku, aku berpikir apa yang harus aku lakukan, kalimat apa yang harus aku ucapkan. Sebenarnya sebelum ini aku tidak pernah bicara panjang lebar secara langsung dengannya. Hanya dari telpon dan chatting saja. Kalaupun bertemu hanya saling menyapa.

Salah satu temanku memulai percakapan dengan basa-basi padanya, begitu pun aku berbicara hanya basa-basi didepannya agar tidak terlihat gugup didepan teman-temanku.

Temanku meminta oleh-oleh padanya. Dia pun membuka tas ranselnya dan mengeluarkan beberapa kotak makanan yang langsung disambar oleh member Noni and the geng. Oh iya, di salah satu chat aku pernah minta oleh-oleh dari kampungnya, tapi aku gatau kalau beneran dibawain. (Kaget sih)

Sesi makan-makan pun berlangsung, dan kotak-kotak makanan itu kini hanya jadi kotak-kotak kosong (Rakus banget teman-temanku ya Tuhan. Sampe hampir ga kebagian)

Ku lihat teman-teman sekelasnya mulai masuk ke kelas. Bapak dosen speaking yang baik hati yang suka ngasih nilai bagus sama mahasiswa, sir Yulianus sudah masuk. Sementara itu teman-temanku sudah mengajakku untuk pulang.

Aku dan teman-temanku mengemasi barang dan bangkit dari duduk. Aku menatapnya seolah berkata aku mau pulang, dan mulai berjalan kearah pintu keluar. Namun secara tiba-tiba. Sangat tiba-tiba bahkan hingga membuat aku kaget, dia menarik tanganku dengan sangat cepat membawaku ke kantin dibelakang gedung.

Dia menyuruhku duduk sebentar dan menyeret sebuah kursi untukku. Aku lalu duduk, begitupun dia. Kami duduk berhadap-hadapan. Aku menatap matanya yang juga menatap kepadaku. Dia mulai bicara dengan suara berat khas laki-laki namun sangat lembut. Meskipun begitu aku tetap bisa mendengar setiap kata-kata yang diucapkannya bahkan dengan sangat jelas.

Jadi gini, kita udah sama-sama tau.
Kamu suka aku dan aku juga suka kamu.
Jadi langsung aja,
Aku mau nanya kamu mau jadi pacarku?
Kamu bisa jawab sekarang atau nanti atau kapan aja.

Setelah mendengar kalimat demi kalimat darinya, aku memilih untuk menjawabnya sekarang juga. Aku tidak mengatakan iya atau tidak. Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju untuk menjadi pacarnya. Rasanya seperti ada ratusan bahkan ribuan kupu-kupu terbang didalam perutku! Yang membuat bibirku selalu ingin menyunggingkan senyuman.

Maka resmilah aku menjadi pacarnya.

Maaf kalo ngga romantis, ngga kayak cowok-cowok lain. Beginilah aku.

Setelah megetahui jawabanku, laki-laki yang duduk dihadapanku tersenyum, membuat lesung pipi nya terlihat meski samar dan matanya yang sipit menghilang sejenak. Kemudian mengatakan kalau hal barusan tidak romantis tapi bagiku ini semua sudah lebih dari romantis.

"Jadi kita pacaran?" Tanyanya kepadaku yang langsung ku iyakan saja biar lebih cepat karna temanku sudah menungguku dari tadi untuk pulang bersama. Ku lihat diapun ingin cepat karna sepertinya kelas sudah dimulai.

Dia pamit kepadaku untuk masuk kedalam kelas lagi dan menyuruhku segera pulang. Sebelum kami masing masing pergi tangan kami saling berjabat. Ntah apa maksud dari jabat tangan ini. Mungkin untuk mengucapkan selamat pada diri kami sendiri.

Selamat datang di dunia kita berdua.




Note: Maaf cerita ini aku nulisnya pake aku-kamu, aslinya sih aku-kau hehe.

0 comments:

Post a Comment

 

Pandamot story Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review