Saturday, 23 December 2017

Goresan Penghujung Tahun

Posted by Your Cotton Candy at 09:04 0 comments

Sayangku...
Aku ingin sedikit bercerita
Tentang hal yang kusukai
Semasa kecil, aku sungguh suka hari libur
Hari yang sangat aku tunggu
Hari dimana aku tidak perlu datang kesekolah
Hari dimana aku bisa menonton film kartun favoritku,
Dari subuh hingga malam membawaku terlelap
Aku bisa berpetualang
Menyusuri jalanan kampung dengan sepeda mini merah muda pemberian orang tuaku
Atau sekedar bermain permainan tradisional dihalaman rumah bersama anak-anak tetangga seusiaku
Hari libur ibarat pelangi setelah hujan
Penuh warna dan menyenangkan

Tapi,
Apa kau tau sayang?
Sepertinya.. sekarang hari libur sudah tak sama
Bagiku dia tidak semenyenangkan dulu
Apa itu hanya aku saja yang merasakannya?
Ataukah ada manusia selain aku yang berpikiran sama?
Seiring berjalannya waktu
Seiring bertambahnya usia
Hari liburku.. berubah menjadi abu-abu
Dia seperti kehilangan warnanya
Tak ada lagi warna-warni pelangi yang kulihat
Tak ada lagi film kartun favoritku ditelevisi
Tak ada lagi petualangan seru mengelilingi perkampungan dengan sepeda
Tak ada lagi teman-teman seusiaku yang bisa diajak bermain

Haaaah...
Jika bisa,
Ingin aku ciptakan saja alat dimana aku dapat men-skip hari liburku
Agar aku bisa kembali ke hari biasa dimana aku menjalani aktivitas keseharianku
Tak mengapa aku harus bangun pagi
Lalu berangkat kekampus biru tempat kita belajar
Yaa.. belajar.
Setidaknya aku bisa bertemu teman-temanku
Tak mengapa aku harus berkutat dengan tugas-tugas dari dosen
Setidaknya aku bisa menyibukkan diriku bersama mereka

Sayang...
Kalau boleh jujur
Ingin aku katakan kini aku tidak suka hari libur
Tau kenapa?
Karena, apabila si hari libur ini tiba
Ia mengharuskan kita pulang
Memisahkan kita dengan ratusan kilometer jarak
Membuatku tidak bisa melihatmu
Membuatku harus menunggu kembali hari biasa itu datang
Disela sela itu semua, ada rindu..
Aku lemah kalau sudah berurusan dengan rindu
Aku memang payah,
Dan kau benar jika kau katakan kalau aku cengeng
Aku bisa terima itu

Bagaimana ini sayang?
Haruskah kusalahkan hari libur?
Dia cukup menyiksa ku
Atau kau punya rencana untuk mengubah persepsiku tentang hari libur?
Mengajakku berlibur bersama misalnya...

Sudahlah sayang,
Kau tidak akan mengerti
Nikmati saja liburanmu sendiri
Aku akan tetap menunggu hari itu
Hari dimana kau kembali dari liburan panjangmu
Ditemani sang rindu yang selalu mendekapku

Bukankah kau akan kembali ketempat dimana hatimu berada, kan sayang..

Kamar Penjara

Posted by Your Cotton Candy at 00:20 0 comments

Aku bagai di penjara

Tak satupun celah bagiku untuk melihat ke arah luar

Tak satupun jalan yang bisa membawa kakiku melangkah

Hanya dari jeruji jendela

Cahaya mentari samar-samar menembus masuk

Hanya tembok putih polos pemandangan
yang ku lihat

Bagai tak berkehidupan

Aku bagai mati.

Sunday, 6 August 2017

PART I : HANDSHAKE

Posted by Your Cotton Candy at 09:11 0 comments

Satu

Aku menyayanginya, aku sangat beruntung memilikinya.

Bagiku engga mudah untuk mengumpulkan keberanian mendekati dia. Bahkan aku harus konsultasi dulu ke beberapa teman yang aku percaya tidak akan menertawakanku karna tau aku akan mendekati seorang laki-laki. Dan pada akhirnya aku berhasil menguatkan keyakinanku untuk menghubunginya duluan, lewat direct message instagram (Birain wlee, sudah emansipasi kok!)

Akhir desember menuju awal tahun, chat demi chat membuat kami semakin dekat. Awalnya, aku kira ini akan jadi hal yang sulit untuk mencari topik pembicaraan aku dengannya (berhubung aku yang mulai duluan hehe). Tapi ternyata engga sama sekali. Percakapan-percakapan itu mengalir begitu saja, membuatku seperti orang gila, yang harus aku akui dengan hanya membaca chatnya membuat aku tersipu, tersenyum, bahkan teriak histeris. Aku engga yakin apakah dia tau hal bodoh ini, tapi aku berharap dia engga tau (hei kamu, kalau sudah tau berpura-puralah tidak tau. Ini memalukan, oke!).

Sepertinya aku menyukaimu. Apakah kamu juga menyukaiku?

Di setiap sesi chit chat kami, aku selalu menggodanya. Bukan menggoda seperti wanita penggoda ya! Tapi menggoda dengan candaan, mengganggu lebih tepatnya. Aku mengatakan, "Aku ingin mengganggumu terus", dan dia dengan senang hati membiarkanku mengganggunya.

Semakin sering chat dengannya semakin menyenangkan dan semakin membuat aku gila. Tergila-gila padanya kah?

Menggilaimu, mewaraskanku.

Hari dimana aku bertemu dengannya setelah libur natal dan tahun baru itupun tiba. Hari itu pula yang menjadikan dirinya sebagai bagian besar dari hidupku. Hidup seorang rima, perempuan keturunan Batak yang gabisa bahasa Batak.

Hari itu, Aku kuliah pagi, dengan semangat aku berjalan ke kampus, perasaan tidak sabar ingin bertemu menggebu-gebu di diriku. Aku sangat senang. Bukan. Bukan karena akan bertemu dengannya. Tiba dikampus aku tidak melihat keberadaannya, tapi kabar baiknya dosen yang mengajar mata kuliah pagi ini dinyatakan tidak masuk.

Aku senang sekali, begitu juga teman teman sekelas yang lain. Hal itu membuat aku dan teman temanku, noni and the geng namanya, memutuskan untuk menghabiskan waktu bergosip ria bersama sama.

Ketika kegiatan gosip berlangsung, masing masing dari kami bergantian bercerita. Rutinitas yang Noni and the geng lakukan disetiap kesempatan. Nyeritain orang lah intinya. Sambil mendengar gosip dari temanku, aku membuka ponsel. Mengirim chat bertanya dimana posisinya. Agak lama aku menunggu balasannya, lalu dia menjawab bahwa dia sedang sarapan dikantin dan akan kesana setelah sarapan. Oh iya dia juga menyampaikan kalau dia sangat lapar karna belum ada makan (padahal aku juga)

Aku terbawa suasana dengan gosip yang diceritakan temanku, kami tertawa bersama-sama. Saling melepas kata-kata kotor kepada satu sama lain. Tiba-tiba saja salah satu temanku menyebut sebuah nama.

Anwar.

Tidak. Temanku tidak seperti hanya sedang menyebut, tapi dia menegur orang yang disebutkan namanya itu. Lantas aku menoleh kepada orang itu. Orang yang aku sangat ingin temui. Dia disini.

Dia berjalan ke arah kami, sambil tersenyum kepadaku. Aku pun tersenyum kepadanya, tapi taukah kalian bahwa dibalik senyum dan tawa yang muncul dari bibirku ada rasa gugup yang mengusik diriku.

Dikepalaku, aku berpikir apa yang harus aku lakukan, kalimat apa yang harus aku ucapkan. Sebenarnya sebelum ini aku tidak pernah bicara panjang lebar secara langsung dengannya. Hanya dari telpon dan chatting saja. Kalaupun bertemu hanya saling menyapa.

Salah satu temanku memulai percakapan dengan basa-basi padanya, begitu pun aku berbicara hanya basa-basi didepannya agar tidak terlihat gugup didepan teman-temanku.

Temanku meminta oleh-oleh padanya. Dia pun membuka tas ranselnya dan mengeluarkan beberapa kotak makanan yang langsung disambar oleh member Noni and the geng. Oh iya, di salah satu chat aku pernah minta oleh-oleh dari kampungnya, tapi aku gatau kalau beneran dibawain. (Kaget sih)

Sesi makan-makan pun berlangsung, dan kotak-kotak makanan itu kini hanya jadi kotak-kotak kosong (Rakus banget teman-temanku ya Tuhan. Sampe hampir ga kebagian)

Ku lihat teman-teman sekelasnya mulai masuk ke kelas. Bapak dosen speaking yang baik hati yang suka ngasih nilai bagus sama mahasiswa, sir Yulianus sudah masuk. Sementara itu teman-temanku sudah mengajakku untuk pulang.

Aku dan teman-temanku mengemasi barang dan bangkit dari duduk. Aku menatapnya seolah berkata aku mau pulang, dan mulai berjalan kearah pintu keluar. Namun secara tiba-tiba. Sangat tiba-tiba bahkan hingga membuat aku kaget, dia menarik tanganku dengan sangat cepat membawaku ke kantin dibelakang gedung.

Dia menyuruhku duduk sebentar dan menyeret sebuah kursi untukku. Aku lalu duduk, begitupun dia. Kami duduk berhadap-hadapan. Aku menatap matanya yang juga menatap kepadaku. Dia mulai bicara dengan suara berat khas laki-laki namun sangat lembut. Meskipun begitu aku tetap bisa mendengar setiap kata-kata yang diucapkannya bahkan dengan sangat jelas.

Jadi gini, kita udah sama-sama tau.
Kamu suka aku dan aku juga suka kamu.
Jadi langsung aja,
Aku mau nanya kamu mau jadi pacarku?
Kamu bisa jawab sekarang atau nanti atau kapan aja.

Setelah mendengar kalimat demi kalimat darinya, aku memilih untuk menjawabnya sekarang juga. Aku tidak mengatakan iya atau tidak. Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju untuk menjadi pacarnya. Rasanya seperti ada ratusan bahkan ribuan kupu-kupu terbang didalam perutku! Yang membuat bibirku selalu ingin menyunggingkan senyuman.

Maka resmilah aku menjadi pacarnya.

Maaf kalo ngga romantis, ngga kayak cowok-cowok lain. Beginilah aku.

Setelah megetahui jawabanku, laki-laki yang duduk dihadapanku tersenyum, membuat lesung pipi nya terlihat meski samar dan matanya yang sipit menghilang sejenak. Kemudian mengatakan kalau hal barusan tidak romantis tapi bagiku ini semua sudah lebih dari romantis.

"Jadi kita pacaran?" Tanyanya kepadaku yang langsung ku iyakan saja biar lebih cepat karna temanku sudah menungguku dari tadi untuk pulang bersama. Ku lihat diapun ingin cepat karna sepertinya kelas sudah dimulai.

Dia pamit kepadaku untuk masuk kedalam kelas lagi dan menyuruhku segera pulang. Sebelum kami masing masing pergi tangan kami saling berjabat. Ntah apa maksud dari jabat tangan ini. Mungkin untuk mengucapkan selamat pada diri kami sendiri.

Selamat datang di dunia kita berdua.




Note: Maaf cerita ini aku nulisnya pake aku-kamu, aslinya sih aku-kau hehe.

Saturday, 11 March 2017

Sabtu Malam

Posted by Your Cotton Candy at 06:01 0 comments

Malam ini malam minggu.
Tidak ada yang spesial tidak ada yang berbeda.
Aku menghela napas panjang. Menikmati setiap tarikannya, lalu meghembuskannya perlahan.

Ku tatap langit langit kamar ku. Kosong.
Hanya ditemani angin semilir dari kipas angin usangku dan lagu lagu sendunya sammy simorangkir.

Ku lantunkan lagu itu dengan nada nada sumbang dari mulutku.
Aku tidak peduli. Pada semua orang yang mendengar suaraku. Tidak juga pada mu.

Kamu, yang sedang tertidur di kasurku.
Apa kamu mendengar suaraku?
Bisa kamu dengar?
Hei.
Aku mendengar lagu sedih bukan berarti aku sedang sedih.

Lalu,
Perutku ku pegangi.
Ku merasa getaran.
Tidak begitu hebat seperti pertama ku melihatmu.
Tapi ini cukup untuk menggangguku.
Getaran kelaparan.

Kamu, sudah bangun?
Aku lapar.
Apa kamu juga?
Hei.
Jangan main hp saja.
Aku mulai mengantuk.

Kamu mulai menonton film anime di laptop merah itu.
Aku?
Aku masih diam.
Masih menatap langit kamarku.
Masih mendengar lagu lagu sendu.
Masih lapar.
Tetapi sudah mengantuk.

Malam ini, malam minggu.
Ini malam, malam mingguku.

Saturday, 18 February 2017

Dibuatin Puisi!!

Posted by Your Cotton Candy at 11:46 0 comments

Waktu itu hari kamis, kamis yang manis bagiku. Aku dan anwar sedang video call. Aku melihat wajahnya dari layar ponselku, yang koneksinya kadang ngga stabil dikarenakan paket data ku yang sudah tidak bersahabat.

"Aku buat puisi," katanya.

"Puisi apa? Aku mau denger," kataku.

"Tapi aku ngga tau judulnya apa," katanya.

"Gapapa," kataku.

"Tapi aku lupa," katanya.

"Tapi puisinya bohongan?" kataku.

"Ngga! Aku serius," katanya.

"Terus yang buat kan kau, masa lupa", kataku.

"Sebentar ya", katanya.

Anwar kemudian, seperti mencari sesuatu.  Aku memperhatikannya dari layar ponselku. Setelah ku rasa dia menemukan sesuatu itu dia melihatku sambil senyum.

"Oke, dengerin ya..." katanya kepadaku sambil berdehem seperti orang batuk padahal ngga lagi batuk dianya.

"Iya," kataku.

Anwar lalu membacakan puisinya. Aku mendengarkan dengan seksama. Alhamdulillah saat dia membacakan puisi koneksi di ponselku stabil jadi aku bisa mendengar puisi itu jelas. Tapi aku berpura pura tidak mendengar dengan jelas sehingga anwar pun mengulangi membacakannya untuk yang kedua kali hehehe.

"Ini pertama kali aku buat puisi cinta," katanya.

"Gapapa. Bagus kok," kataku.

"Iya. Aku tau kenapa kau bilang bagus," katanya.

"Kenapa?" kataku.

"Karena disitu ada namamu," katanya.

"Iya hahaha," kataku

"Setiap puisi yang ada namaku itu bagus. Hahaha," kataku lagi.

Dia tertawa.

Lalu aku ikut tertawa dan tidak berhenti, karena apa?? Karena itu adalah pertama kali seseorang membuatkan aku puisi. Aku senang.

Terimakasih pembela kebenaran di negeri antah berantah.


Friday, 17 February 2017

Pertemuan Pertama

Posted by Your Cotton Candy at 05:51 0 comments

November 2016 adalah bulan paling melelahkan.

Memasuki semester 5 kuliahku, aku mulai sibuk mengikuti kepanitiaan acara tahunan yang diadakan oleh jurusanku. Acara itu namanya IMSI's Anniversary yang maksudnya adalah ulang tahunnya Ikatan Mahasiswa Sastra Inggris pada saat itu yang ke-35.

Aku memilih menjadi panitia bagian acara, sedangkan teman teman satu gengku menjadi panitia di bagian publikasi. Karena kerjaan ku di bagian acara belum terlalu sibuk maka aku membantu teman temanku untuk ikut mempublikasikan acara kami ke sekolah sekolah.

Kegiatan publikasi ini dimulai kalau tidak salah bulan Oktober. Dan saat itu aku masih menyandang status sebagai pacarnya didi. Waktu itu kami sama sama sibuk, sehingga terjadi permasalahan diantara kami yang menyebabkan kami berpisah.

Singkatnya aku putus dengan didi. Benar benar putus. Didi tidak pernah menghubungiku lagi. Kami berdua sudah ngga intens lagi berkomunikasi waktu itu, meskipun kadang kadang aku ingat sekali, aku memberanikan diri untuk memulai duluan menanyakan kabarnya. Karna sejujurnya terkadang aku merindukannya.

Memasuki bulan November kegiatan publikasi masih aku ikuti. Meskipun tanggung jawabku sebagai panitia acara juga harus aku kerjakan dan kewajibanku untuk kuliah juga harus dilaksanakan. Sejujurnya aku lelah, tapi aku menikmati kesibukan ku. Ini dikarenakan kekosongan akibat putus dengan didi bisa sedikit tertutupi dengan menyibukkan diriku.

Disuatu sabtu pagi yang ngga terlalu pagi di bulan November, aku bangun dengan malas malasan. Menggeliat di kasur dan menguap nguap. Hari itu weekend. Ngga ada kuliah. Dan aku berniat melanjutkan tidurku.

Tetapi niat suci ku itu ternodai ketika dering ponselku berbunyi.

Seorang teman dari panitia publikasi menelponku. Dia meminta ku membantunya untuk publikasi hari itu. Dan aku sangat sangat sangat sangat malas untuk ikut. Aku sempat menolak permintaannya dengan berbagai macam alasan. Tapi tetap saja, aku ngga tega karna dia ngga ada yang bantuin dan akhirnya akupun luluh. Dia berkata akan menjemputku setelah mematikan telpon.

Aku pun kemudian bersiap siap. Karena mendadak dan hanya publikasi disekitaran kampus aku memilih untuk ngga mandi.

Baru saja aku selesai sikat gigi dan mencuci wajahku terdengar seseorang memanggil namaku dari luar. Suaranya sangat keras dan nyaring sehingga aku sangat yakin bahwa seluruh isi rumah bisa mendengarnya saat itu.

"Ah, pasti itu dia udah dateng." Ujarku dalam hati.

"Tungguuuuu bentaaarr!". Aku setengah berteriak memintanya untuk bersabar sebentar karna aku belum selesai.

Buru buru aku menggganti celana pendek ku, memakai jilbab, mengambil ponsel yang sudah dipenuhi dengan notif pesan serta 8 kali panggilan tidak terjawab dari temanku itu. Aku meraih kunci rumah lalu membuka pintu. Dia sudah menungguku duduk diatas motornya sambil tersenyum manis. Tapi berubah jadi tidak manis karna dia mulai memarahiku.

"Lama kali kau bodat!"

"Aku baru bangun pas kau telpon."

"Yauda ayok, kita cuma bagiin flyer di audit aja kok."

"Hmmm..."

"Ikhlas ngga bantuinnya?"

"Iya. Nyet."

Kalau saja dia bukan teman dekatku, aku sudah melanjutkan mimpi indahku. Atau sekedar tiduran dikamar sambil membaca novel kesukaanku. Menikmati akhir pekan dengan caraku sendiri. Biarlah, pikirku. Setidaknya membantu orang yang kesusahan akan mendapatkan pahala. Insya Allah, aku ikhlas. Jika tidak, ngga jadi dapat pahala.

********

Sebelum ke auditorium untuk publikasi aku dan temanku ke kampus dulu. Oiya kampus ku di fakultas ilmu budaya karna aku anak sastra. Sudah ku kasih tau kan ya? Kami berdua langsung ke stand annive. Disana sudah berkumpul beberapa teman teman panitia yang lain.

"Kalian publikasi di audit, disana rame anak sekolah. Lagi ada olimpiade. Bagi bagi flyer aja." Kata seseorang dari mereka.

Ya Tuhan baiklah. Begini pada akhirnya weekendku. Setidaknya sampai tanggal 26 November saja. Hanya sampai acara annive ini selesai.

Aku dan temanku lalu naik motor menuju audit. Dan, ternyata audit sangat ramai. Benar benar sangat ramai. Seperti pasar. Banyak pedagang makanan dan banyak anak anak sekolah dengan seragam mereka masing masing.

Ada yang cuma duduk duduk. Ada yang sedang makan. Dan ada juga ternyata yang ganteng he he hee.

Aku melihat layar ponselku. Tidak ada notif apapun yang masuk. Kulihat jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Pantas rame, pikirku.

Temanku memarkirkan motornya. Kami berjalan memasuki halaman auditorium. Beruntunglah kali ini kami tidak publikasi berdua saja. Ada beberapa teman teman panitia lain yang ikut membantu. Tapi hanya aku dan temanku yang berjenis kelamin perempuan dan sisanya bukanlah perempuan.

"Untung kau ikut." Kata temanku padaku

Dia menyerahkan ku beberapa flyer yang baru saja di fotocopy dan masih hangat hangatnya.

Kami berdua dan teman teman panitia yang lain mulai menjalankan tugas publikasi ini. Membagikan setiap lembaran flyer ke anak anak sekolah yang kami temui disana. Benar benar seperti sales obat pikirku.

Tapi, taukah kamu?

Aku memang tidak terlalu akrab dengan teman teman panitia yang lain, tetapi aku mengenali mereka. Hanya saja ada satu yang tidak. Karena aku tidak mengenalinya. Sama sekali ngga.

Sempat kupikir orang itu teman seangkatanku sama seperti aku dan teman teman panitia yang lain. Tapi aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.

Sempat kupikir pula orang itu seniorku. Karena rambut gondrong nya dan wajah yang dipenuhi kumis dan jenggot.

Lalu siapa dia sebenarnya?

Kutanyakan hal ini kepada temanku, karena rasa ingin tauku yang sangat besar.

"Itu anak, siapa ya. Kok baru liat?"

"Anak 2015."

"Kok tua ya?"

"Aku pikirpun senior."

"Hahaha sama. Namanya tau?"

"Kalo ga salah anwar."

Begitulah pertama kali aku bertemu orang itu. Orang yang bernama anwar. Orang lain yang kini menjadi pacarku. Anwarku.

Ku kira sampai disini dulu saja. Nanti akan aku ceritakan lagi bagaimana aku bisa berpacaran dengannya dijudul yang berbeda lain waktu. Sekarang sudah pukul 08.38 Waktu Indonesia bagian Barat. Dan aku ada kuliah pukul 09.40. Dan aku malas.

********

Maret 2015 Sampai Akhir Tahun 2016

Posted by Your Cotton Candy at 00:46 0 comments

Halo.
Aku lagi. Apa masih ingat?
Karima utama nst yang biasa disapa rima seorang gadis biasa berwajah antik dan merupakan mahasiswa sastra inggris yang sekarang sudah semester 6.

Oke aku udah mulai menua.

Baiklah, aku mau ngeblog lagi. Seperti biasa. Mau ngomongin cinta cintaan.

Setelah hampir dua tahun lalu aku mengenal sosok didi yang hadir saat aku sedang patah patahnya di bagian hati ku, ternyata hubunganku dengan laki laki ini tidak berjalan baik seperti mimpi mimpi kami yang tidak sempat terwujud.

Penutupan tahun 2016 aku dan didi resmi berpisah.

Berat sekali rasanya. Sampai sekarang aku tidak begitu mengerti, siapa yang salah hingga hubungan ku dengan dia berakhir.

Aku yang salah?
Dia yang salah?

Didi bilang padaku disalah satu sesi chat, dia meminta maaf karna dia merasa bersalah atas putusnya kami berdua.

Tapi disatu sisi, aku juga merasa bersalah karena dengan mudahnya mengutarakan kata putus itu tanpa berpikir panjang dan melihat perjuangan kami selama ini.

Maafin aku.

Aku minta maaf.

Aku juga sangat berterimakasih atas apa apa yang telah kami lewati. Terimakasih pada didi, pada semesta, pada konspirasi jagat raya yang telah membuat kami bersama sama meski tidak selamanya.

Didi telah membahagiakan ku, menyayangiku dan aku tidak akan lupa itu. Dia pernah menjadi sosok yang paling aku tunggu namanya muncul di notification ponselku. Dia pernah menjadi sosok yang aku mimpikan untuk menjadi masa depanku.

Didi adalah laki laki yang bertanggung jawab dan dewasa. Akan selalu ku kenang dia seperti itu.

Hal yang aku sukai darinya adalah dia seolah-olah ingin menunjukkan ke seluruh dunia kalau aku adalah pacarnya. Aku masih ingat, hari pertama berpacaran dengannya aku sudah dikenalkan kepada teman teman komunitas nya. Waktu itu komunitas peduli anak. Lalu aku dikenalkan ke teman teman kuliahnya yang sekarang juga masih menjadi temanku. Selain itu masih banyak lagi orang orang baru yang ku kenal karenanya. Dia juga gampang dekat dengan teman teman ku yang aku kenalkan kepadanya.

Terimakasih didi, pergaulanku bertambah luas dan banyak hal baru yang ku dapat berkat hadirmu dihidupku.

Didi juga merupakan teman yang sangat asik diajak bercerita. Dia selalu bisa memberikan masukan masukan dan pendapat pendapat nya untuk ku. Membuatku untuk bisa menjadi manusia berkarakter dewasa.

Dia adalah laki laki pertama yang aku kenalkan ke orangtuaku secara resmi dari bibirku sendiri. Orang tuaku telah mempercayai nya untuk menjagaku selama aku tinggal di kost untuk melanjutkan pendidikan ku. Dan ini membuatku cukup mengalami kesulitan karena setelah putus aku harus memberitahukan kepada orangtua ku pula.

Ada beberapa hal yang sejujurnya bikin aku kecewa dari didi. Salah satunya yang paling ngga aku bisa pahami yaitu dia ngga pernah ajak aku kenal keluarganya secara langsung atau hanya berkunjung kerumah, padahal sudah berpacaran satu setengah tahun lebih dikit. Sebagai seorang pacarnya dulu aku juga ingin dekat dengan keluarganya seperti dia dekat dengan keluargaku. Tapi alasan yang dia berikan ngga bisa aku pahami sepenuhnya. Aku masih saja merasa sedih mengingat ini meskipun tidak terlalu aku permasalahkan dengannya sewaktu masih berpacaran dulu.

Sifat cueknya juga membuatku menyerah untuk bertahan di hubungan ini. Segala macam kegiatan nya dan kesibukan nya membuat ku sulit untuk bertemu padahal rindu sedang liar liar nya. Aku begitu membutuhkannya. Yang sangat disayangkan dia tidak bisa selalu ada. Mungkin disini aku egois. Tapi kamu harus tau. Aku sudah berusaha dengan segala kemampuanku untuk mengerti dan memahami kesibukan nya. Aku merasa tidak pernah menuntut hal hal yang berlebihan. Tapi ketika aku rindu dan dia tidak bisa memenuhi hasratku bertemu, aku kecewa.

Harus ku akui, ngga sedikit perjuangan dan pengorbanan didi untuk aku selama kami masih berpacaran dulunya. Aku sangat menghargai itu.

Sebenernya aku tidak begitu siap untuk kehilangan. Tapi aku tidak menyesalinya kini. Jika aku dan didi adalah sebuah kesalahan, ini kesalahan yang membahagiakan. Akan aku jadikan perpisahan ini untuk memperbaiki diriku sendiri dan hubungan selanjutnya yang aku jalani sekarang.

Yha, sekarang aku sudah berpacaran dengan orang lain. Dan yg ku yakini kabar ini membuat didi sakit hati, karena akupun akan merasa hal yang sama jika orang yang ku sayangi memiliki kekasih baru selang beberapa waktu setelah putus. Aku bisa menjelaskan bagaimana aku bisa bertemu dengan orang lain ini. Aku tidak ingin kamu berpikir kalau aku berpisah dengan didi karna orang lain. Karena nyatanya memang tidak. Aku bertemu orang lain ini setelah resmi putus dari didi, meskipun sebelumnya aku dan didi sempat balikan dan putus lagi pada akhirnya. Kurasa itu sudah cukup jelas. Bagaimana proses aku dan orang lain ini bisa dekat dan akhirnya berpacaran tidak aku tulis disini. Mungkin di lain judul.

Sekali lagi, teruntuk didi yang bukan milikku dimanapun dan apapun yang sedang kamu lakukan.
Ku haturkan beribu maaf atas segala kesalahan ku, menyakitimu, membuatmu kesal, dan lain lain nya yang aku lakukan sewaktu kita bersama dulu. Ku harap kamu memaafkanku. Karna akupun begitu. Itu kalo kamu minta maaf juga.

Keinginanku sederhana, tapi mungkin berat. Aku ingin kita masih bisa berteman baik. Tanpa dendam tanpa permusuhan. Berbahagialah!:)

 

Pandamot story Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review