Saturday, 18 February 2017

Dibuatin Puisi!!

Posted by Your Cotton Candy at 11:46 0 comments

Waktu itu hari kamis, kamis yang manis bagiku. Aku dan anwar sedang video call. Aku melihat wajahnya dari layar ponselku, yang koneksinya kadang ngga stabil dikarenakan paket data ku yang sudah tidak bersahabat.

"Aku buat puisi," katanya.

"Puisi apa? Aku mau denger," kataku.

"Tapi aku ngga tau judulnya apa," katanya.

"Gapapa," kataku.

"Tapi aku lupa," katanya.

"Tapi puisinya bohongan?" kataku.

"Ngga! Aku serius," katanya.

"Terus yang buat kan kau, masa lupa", kataku.

"Sebentar ya", katanya.

Anwar kemudian, seperti mencari sesuatu.  Aku memperhatikannya dari layar ponselku. Setelah ku rasa dia menemukan sesuatu itu dia melihatku sambil senyum.

"Oke, dengerin ya..." katanya kepadaku sambil berdehem seperti orang batuk padahal ngga lagi batuk dianya.

"Iya," kataku.

Anwar lalu membacakan puisinya. Aku mendengarkan dengan seksama. Alhamdulillah saat dia membacakan puisi koneksi di ponselku stabil jadi aku bisa mendengar puisi itu jelas. Tapi aku berpura pura tidak mendengar dengan jelas sehingga anwar pun mengulangi membacakannya untuk yang kedua kali hehehe.

"Ini pertama kali aku buat puisi cinta," katanya.

"Gapapa. Bagus kok," kataku.

"Iya. Aku tau kenapa kau bilang bagus," katanya.

"Kenapa?" kataku.

"Karena disitu ada namamu," katanya.

"Iya hahaha," kataku

"Setiap puisi yang ada namaku itu bagus. Hahaha," kataku lagi.

Dia tertawa.

Lalu aku ikut tertawa dan tidak berhenti, karena apa?? Karena itu adalah pertama kali seseorang membuatkan aku puisi. Aku senang.

Terimakasih pembela kebenaran di negeri antah berantah.


Friday, 17 February 2017

Pertemuan Pertama

Posted by Your Cotton Candy at 05:51 0 comments

November 2016 adalah bulan paling melelahkan.

Memasuki semester 5 kuliahku, aku mulai sibuk mengikuti kepanitiaan acara tahunan yang diadakan oleh jurusanku. Acara itu namanya IMSI's Anniversary yang maksudnya adalah ulang tahunnya Ikatan Mahasiswa Sastra Inggris pada saat itu yang ke-35.

Aku memilih menjadi panitia bagian acara, sedangkan teman teman satu gengku menjadi panitia di bagian publikasi. Karena kerjaan ku di bagian acara belum terlalu sibuk maka aku membantu teman temanku untuk ikut mempublikasikan acara kami ke sekolah sekolah.

Kegiatan publikasi ini dimulai kalau tidak salah bulan Oktober. Dan saat itu aku masih menyandang status sebagai pacarnya didi. Waktu itu kami sama sama sibuk, sehingga terjadi permasalahan diantara kami yang menyebabkan kami berpisah.

Singkatnya aku putus dengan didi. Benar benar putus. Didi tidak pernah menghubungiku lagi. Kami berdua sudah ngga intens lagi berkomunikasi waktu itu, meskipun kadang kadang aku ingat sekali, aku memberanikan diri untuk memulai duluan menanyakan kabarnya. Karna sejujurnya terkadang aku merindukannya.

Memasuki bulan November kegiatan publikasi masih aku ikuti. Meskipun tanggung jawabku sebagai panitia acara juga harus aku kerjakan dan kewajibanku untuk kuliah juga harus dilaksanakan. Sejujurnya aku lelah, tapi aku menikmati kesibukan ku. Ini dikarenakan kekosongan akibat putus dengan didi bisa sedikit tertutupi dengan menyibukkan diriku.

Disuatu sabtu pagi yang ngga terlalu pagi di bulan November, aku bangun dengan malas malasan. Menggeliat di kasur dan menguap nguap. Hari itu weekend. Ngga ada kuliah. Dan aku berniat melanjutkan tidurku.

Tetapi niat suci ku itu ternodai ketika dering ponselku berbunyi.

Seorang teman dari panitia publikasi menelponku. Dia meminta ku membantunya untuk publikasi hari itu. Dan aku sangat sangat sangat sangat malas untuk ikut. Aku sempat menolak permintaannya dengan berbagai macam alasan. Tapi tetap saja, aku ngga tega karna dia ngga ada yang bantuin dan akhirnya akupun luluh. Dia berkata akan menjemputku setelah mematikan telpon.

Aku pun kemudian bersiap siap. Karena mendadak dan hanya publikasi disekitaran kampus aku memilih untuk ngga mandi.

Baru saja aku selesai sikat gigi dan mencuci wajahku terdengar seseorang memanggil namaku dari luar. Suaranya sangat keras dan nyaring sehingga aku sangat yakin bahwa seluruh isi rumah bisa mendengarnya saat itu.

"Ah, pasti itu dia udah dateng." Ujarku dalam hati.

"Tungguuuuu bentaaarr!". Aku setengah berteriak memintanya untuk bersabar sebentar karna aku belum selesai.

Buru buru aku menggganti celana pendek ku, memakai jilbab, mengambil ponsel yang sudah dipenuhi dengan notif pesan serta 8 kali panggilan tidak terjawab dari temanku itu. Aku meraih kunci rumah lalu membuka pintu. Dia sudah menungguku duduk diatas motornya sambil tersenyum manis. Tapi berubah jadi tidak manis karna dia mulai memarahiku.

"Lama kali kau bodat!"

"Aku baru bangun pas kau telpon."

"Yauda ayok, kita cuma bagiin flyer di audit aja kok."

"Hmmm..."

"Ikhlas ngga bantuinnya?"

"Iya. Nyet."

Kalau saja dia bukan teman dekatku, aku sudah melanjutkan mimpi indahku. Atau sekedar tiduran dikamar sambil membaca novel kesukaanku. Menikmati akhir pekan dengan caraku sendiri. Biarlah, pikirku. Setidaknya membantu orang yang kesusahan akan mendapatkan pahala. Insya Allah, aku ikhlas. Jika tidak, ngga jadi dapat pahala.

********

Sebelum ke auditorium untuk publikasi aku dan temanku ke kampus dulu. Oiya kampus ku di fakultas ilmu budaya karna aku anak sastra. Sudah ku kasih tau kan ya? Kami berdua langsung ke stand annive. Disana sudah berkumpul beberapa teman teman panitia yang lain.

"Kalian publikasi di audit, disana rame anak sekolah. Lagi ada olimpiade. Bagi bagi flyer aja." Kata seseorang dari mereka.

Ya Tuhan baiklah. Begini pada akhirnya weekendku. Setidaknya sampai tanggal 26 November saja. Hanya sampai acara annive ini selesai.

Aku dan temanku lalu naik motor menuju audit. Dan, ternyata audit sangat ramai. Benar benar sangat ramai. Seperti pasar. Banyak pedagang makanan dan banyak anak anak sekolah dengan seragam mereka masing masing.

Ada yang cuma duduk duduk. Ada yang sedang makan. Dan ada juga ternyata yang ganteng he he hee.

Aku melihat layar ponselku. Tidak ada notif apapun yang masuk. Kulihat jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Pantas rame, pikirku.

Temanku memarkirkan motornya. Kami berjalan memasuki halaman auditorium. Beruntunglah kali ini kami tidak publikasi berdua saja. Ada beberapa teman teman panitia lain yang ikut membantu. Tapi hanya aku dan temanku yang berjenis kelamin perempuan dan sisanya bukanlah perempuan.

"Untung kau ikut." Kata temanku padaku

Dia menyerahkan ku beberapa flyer yang baru saja di fotocopy dan masih hangat hangatnya.

Kami berdua dan teman teman panitia yang lain mulai menjalankan tugas publikasi ini. Membagikan setiap lembaran flyer ke anak anak sekolah yang kami temui disana. Benar benar seperti sales obat pikirku.

Tapi, taukah kamu?

Aku memang tidak terlalu akrab dengan teman teman panitia yang lain, tetapi aku mengenali mereka. Hanya saja ada satu yang tidak. Karena aku tidak mengenalinya. Sama sekali ngga.

Sempat kupikir orang itu teman seangkatanku sama seperti aku dan teman teman panitia yang lain. Tapi aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.

Sempat kupikir pula orang itu seniorku. Karena rambut gondrong nya dan wajah yang dipenuhi kumis dan jenggot.

Lalu siapa dia sebenarnya?

Kutanyakan hal ini kepada temanku, karena rasa ingin tauku yang sangat besar.

"Itu anak, siapa ya. Kok baru liat?"

"Anak 2015."

"Kok tua ya?"

"Aku pikirpun senior."

"Hahaha sama. Namanya tau?"

"Kalo ga salah anwar."

Begitulah pertama kali aku bertemu orang itu. Orang yang bernama anwar. Orang lain yang kini menjadi pacarku. Anwarku.

Ku kira sampai disini dulu saja. Nanti akan aku ceritakan lagi bagaimana aku bisa berpacaran dengannya dijudul yang berbeda lain waktu. Sekarang sudah pukul 08.38 Waktu Indonesia bagian Barat. Dan aku ada kuliah pukul 09.40. Dan aku malas.

********

Maret 2015 Sampai Akhir Tahun 2016

Posted by Your Cotton Candy at 00:46 0 comments

Halo.
Aku lagi. Apa masih ingat?
Karima utama nst yang biasa disapa rima seorang gadis biasa berwajah antik dan merupakan mahasiswa sastra inggris yang sekarang sudah semester 6.

Oke aku udah mulai menua.

Baiklah, aku mau ngeblog lagi. Seperti biasa. Mau ngomongin cinta cintaan.

Setelah hampir dua tahun lalu aku mengenal sosok didi yang hadir saat aku sedang patah patahnya di bagian hati ku, ternyata hubunganku dengan laki laki ini tidak berjalan baik seperti mimpi mimpi kami yang tidak sempat terwujud.

Penutupan tahun 2016 aku dan didi resmi berpisah.

Berat sekali rasanya. Sampai sekarang aku tidak begitu mengerti, siapa yang salah hingga hubungan ku dengan dia berakhir.

Aku yang salah?
Dia yang salah?

Didi bilang padaku disalah satu sesi chat, dia meminta maaf karna dia merasa bersalah atas putusnya kami berdua.

Tapi disatu sisi, aku juga merasa bersalah karena dengan mudahnya mengutarakan kata putus itu tanpa berpikir panjang dan melihat perjuangan kami selama ini.

Maafin aku.

Aku minta maaf.

Aku juga sangat berterimakasih atas apa apa yang telah kami lewati. Terimakasih pada didi, pada semesta, pada konspirasi jagat raya yang telah membuat kami bersama sama meski tidak selamanya.

Didi telah membahagiakan ku, menyayangiku dan aku tidak akan lupa itu. Dia pernah menjadi sosok yang paling aku tunggu namanya muncul di notification ponselku. Dia pernah menjadi sosok yang aku mimpikan untuk menjadi masa depanku.

Didi adalah laki laki yang bertanggung jawab dan dewasa. Akan selalu ku kenang dia seperti itu.

Hal yang aku sukai darinya adalah dia seolah-olah ingin menunjukkan ke seluruh dunia kalau aku adalah pacarnya. Aku masih ingat, hari pertama berpacaran dengannya aku sudah dikenalkan kepada teman teman komunitas nya. Waktu itu komunitas peduli anak. Lalu aku dikenalkan ke teman teman kuliahnya yang sekarang juga masih menjadi temanku. Selain itu masih banyak lagi orang orang baru yang ku kenal karenanya. Dia juga gampang dekat dengan teman teman ku yang aku kenalkan kepadanya.

Terimakasih didi, pergaulanku bertambah luas dan banyak hal baru yang ku dapat berkat hadirmu dihidupku.

Didi juga merupakan teman yang sangat asik diajak bercerita. Dia selalu bisa memberikan masukan masukan dan pendapat pendapat nya untuk ku. Membuatku untuk bisa menjadi manusia berkarakter dewasa.

Dia adalah laki laki pertama yang aku kenalkan ke orangtuaku secara resmi dari bibirku sendiri. Orang tuaku telah mempercayai nya untuk menjagaku selama aku tinggal di kost untuk melanjutkan pendidikan ku. Dan ini membuatku cukup mengalami kesulitan karena setelah putus aku harus memberitahukan kepada orangtua ku pula.

Ada beberapa hal yang sejujurnya bikin aku kecewa dari didi. Salah satunya yang paling ngga aku bisa pahami yaitu dia ngga pernah ajak aku kenal keluarganya secara langsung atau hanya berkunjung kerumah, padahal sudah berpacaran satu setengah tahun lebih dikit. Sebagai seorang pacarnya dulu aku juga ingin dekat dengan keluarganya seperti dia dekat dengan keluargaku. Tapi alasan yang dia berikan ngga bisa aku pahami sepenuhnya. Aku masih saja merasa sedih mengingat ini meskipun tidak terlalu aku permasalahkan dengannya sewaktu masih berpacaran dulu.

Sifat cueknya juga membuatku menyerah untuk bertahan di hubungan ini. Segala macam kegiatan nya dan kesibukan nya membuat ku sulit untuk bertemu padahal rindu sedang liar liar nya. Aku begitu membutuhkannya. Yang sangat disayangkan dia tidak bisa selalu ada. Mungkin disini aku egois. Tapi kamu harus tau. Aku sudah berusaha dengan segala kemampuanku untuk mengerti dan memahami kesibukan nya. Aku merasa tidak pernah menuntut hal hal yang berlebihan. Tapi ketika aku rindu dan dia tidak bisa memenuhi hasratku bertemu, aku kecewa.

Harus ku akui, ngga sedikit perjuangan dan pengorbanan didi untuk aku selama kami masih berpacaran dulunya. Aku sangat menghargai itu.

Sebenernya aku tidak begitu siap untuk kehilangan. Tapi aku tidak menyesalinya kini. Jika aku dan didi adalah sebuah kesalahan, ini kesalahan yang membahagiakan. Akan aku jadikan perpisahan ini untuk memperbaiki diriku sendiri dan hubungan selanjutnya yang aku jalani sekarang.

Yha, sekarang aku sudah berpacaran dengan orang lain. Dan yg ku yakini kabar ini membuat didi sakit hati, karena akupun akan merasa hal yang sama jika orang yang ku sayangi memiliki kekasih baru selang beberapa waktu setelah putus. Aku bisa menjelaskan bagaimana aku bisa bertemu dengan orang lain ini. Aku tidak ingin kamu berpikir kalau aku berpisah dengan didi karna orang lain. Karena nyatanya memang tidak. Aku bertemu orang lain ini setelah resmi putus dari didi, meskipun sebelumnya aku dan didi sempat balikan dan putus lagi pada akhirnya. Kurasa itu sudah cukup jelas. Bagaimana proses aku dan orang lain ini bisa dekat dan akhirnya berpacaran tidak aku tulis disini. Mungkin di lain judul.

Sekali lagi, teruntuk didi yang bukan milikku dimanapun dan apapun yang sedang kamu lakukan.
Ku haturkan beribu maaf atas segala kesalahan ku, menyakitimu, membuatmu kesal, dan lain lain nya yang aku lakukan sewaktu kita bersama dulu. Ku harap kamu memaafkanku. Karna akupun begitu. Itu kalo kamu minta maaf juga.

Keinginanku sederhana, tapi mungkin berat. Aku ingin kita masih bisa berteman baik. Tanpa dendam tanpa permusuhan. Berbahagialah!:)

 

Pandamot story Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review